Welcome to WordPress.com! This is your very first post. Click the Edit link to modify or delete it, or start a new post. If you like, use this post to tell readers why you started this blog and what you plan to do with it.

Happy blogging!

Dua pedagang itu saling melotot, memaki, dan kemudian bertukar tinju. Pedagang dan pengunjung pasar Atas Bukit Tinggi lainnya heboh. Ada yang menjerit, ada yang lari, ada pula yang berteriak meramaikan suasana. Perkelahian itu dipicu persoalan sepele: Anggodo. Ya Anggodo, aktor utama MK Record.

Pedagang pertama, sebutlah Buyung Ketek, sedang mangota tentang Anggodo. Lewatlah pedagang lain, sebut pula Ajo Ramon, yang kelelahan sambil menyunggi sekarung singkong. Suasana pasar yang ramai, kecapekan, membuat pendengarannya tidak peka. Tetapi hatinya peka. Sekonyong2 ia mendengar makian Ang godok. Darahnya membuncah, dan terjadilah perkelahian.

Mengapa Anggodo jadi sumber perkelahian? Jangan mengira para pedagang itu menyikapi kasus korupsi seserius elit politik saat ini. Bukan karena mereka ada yang pro DPR, Polri, atau Kejagung, dan sebaliknya ada yang pro KPK, TIm 8, dan Cicak. Sama sekali jauh. Ang godok itu terdiri dari 2 kata. Ang singkatan dari Waang, yang berarti anda, ente, elo, sampeyan, kau. Terus godok, saya tak berani mengartikan. Tebak sajalah, kalau kata itu bisa menimbulkan perkelahian pasti karena “sesuatu”. Kalau penasaran juga, matikan komputer, beranjaklah ke warung Padang terdekat. Lalu tanya sambil berbisik pelayan laki2. Harus laki2, kalau perempuan, bisa-bisa semangkok sambel ijo akan mendarat di muka.

Sumpah, ini hanya cerita rekayasa. Gak percaya, baiklah saya bersumpah lagi: Wallahi (bukan Lillahi ta’ala, apalagi Lillahi Taallah). Bicara tentang sumpah, siapapun yang pernah ke Arab akan mengerti bahwa itu ungkapan sehari-hari. Pedagang di Pasar Seng, akan bilang “Wallahi” untuk menjamin harga yang ia tawarkan paling murah.

Sekali lagi, sumpah ini cerita rekayasa. Jadi jangan buang waktu untuk memberi comment. Percuma.

Gempa di Padang jam 17.16, lihat Quran Surat ke-17 (Al Israa’) ayat 16: “Dan jika Kami hendak membinasakan suatu negeri, maka Kami perintahkan kepada orang-orang yang hidup mewah di negeri itu (supaya mentaati Allah) tetapi mereka melakukan kedurhakaan dalam negeri itu, maka sudah sepantasnya berlaku terhadapnya perkataan (ketentuan Kami), kemudian Kami hancurkan negeri itu sehancur-hancurnya.”

Kabar itu beredar lewat SMS, status facebook, maupun imel. Sebagai makhluk beriman, tak ada keraguan se-zarrah pun atas kebenarannya. Sekecil apapun kejadian di muka bumi, pasti datang dari NYA, dan ada tanda-tanda bagi orang yang berakal.

Di Padang, kerusakan itu begitu maha. Tembok, tebing pun tumbang dihumbalang gempa. Jerit kematian terjadi dimana-mana. Alam yang marah memorak poranda bumi Minang nan rancak. Tetapi menuduh bencana sebagai takdir belaka, bisa menjadi alat justifikasi pemerintah, untuk menutupi ketidak mampuan melawan bencana. Menyalahkan alam memang lebih mudah ketimbang menginventarisasi kebutuhan daerah rawan bencana. Itu juga lebih sederhana daripada melatih warga, membuat jalur evakuasi, dan pengaturan bahan pangan darurat.

Sebagai daerah yang dilalui cincin api, dengan potensi gempa yang begitu besar, maka SOP dan mitigasi menjadi barang mutlak. Dimana sistem peringatan dini, dimana tanggap darurat, kemana safe house, lenyap dalam kepanikan dan duka mendalam.

“Bukan gempa yang membunuh, tapi bangunanlah yang menyebabkan kematian”, kata seorang pejabat. Tapi gempalah yang membuat rumah roboh dan tebing longsor, Tuan. Tidakkah pengalaman gempa berbilang tahun bisa dijadikan dasar rencana pengembangan wilayah. Bukankah di Jepang sana, konstruksi bangunan dibuat menyesuaikan dengan gempa?

Ah, mitigasi mengatasi kemacetan saja kita gagal kok. Semua orang, sampai anak kecil pun tau, persimpangan jalan memicu kemacetan. Tapi lihatlah Mal Pejaten, Plaza Semanggi justru berdiri megah di persimpangan. Tengok pula daerah resapan yang padat oleh bangunan, sehingga memicu banjir sewaktu-waktu.

Alam memang tak lagi menjadi guru. Ketika kita kafir kepada alam, alam yang terzalimi pun enggan bersahabat. Haruskah kedurhakaan itu menambah panjang daftar korban?

Tergopoh aku setengah berlari menapaki tangga stasiun Gondangdia. Tirai di loket Depok Ekspres sudah tertutup. Sambil menata nafas, aku tatap jam tangan: pukul 19.02. Jadwal terakhir, 19.08. Aku bersangka baik, mungkin penjaga menghemat tenaga dengan bergabung di satu loket ekonomi.

Seperti biasa, tidak ada antrian di loket, yang ada kerumunan. Setelah ikut berdesakan, aku tiba di loket yang dijaga lelaki merokok.
“Depok Ekspres udah lewat 5 menit yang lalu”
“Kok bisa, ini khan masih jam 7 lewat 5”
Dia diam saja, membuang jauh tatapan. Seolah memberi kesan, buruan deh masih banyak calon penumpang lain tuh. Memang, di belakang orang berdempet sudah semakin banyak.

Itu dua hari lalu. Tadi malam, aku tiba di depan loket 5 menit lebih awal. Aku tak mau dijuluki kedelai, terjerumus dua kali di lubang yang sama. Kereta belum ke Kota. Alamat terlambat. Sama seperti kemarin, tak ada kata maaf.

Jadi kereta kecepatan, kereta terlambat, mengutip anak-anak sekarang, derita lo. Peron dipadati calon penumpang. Tak ada kemarahan, tak ada protes. Jamak jika ada keterlambatan jadwal. Ketidak pastian memang nasib pengguna angkutan publik di negeri ini.

Pendingin ruangan di gerbong, suara lamat-lamat penumpang lain yang membaca Quran meneduhkan hati. Tapi “cobaan” itu datang lagi. Menjelnag stasiun UI tiba-tiba kereta berhenti. Gelap. Tak ada pengumuman, tiada kata maaf. Temaram lampu penerangan UI, menunjukkan hujan masih rintik. Dingin itu tak lagi meneduhkan, karena membuat perut yang baru terisi cemilan mulai melilit.

Benarlah ucapan Homer Simpson, kepala keluarga The Simpson, bahwa Public Transportation is For Losers. Orang-orang kalah, yang tak mampu membeli mobil, tak berani bersuara, voiceless, sehingga tidak harus diperhatikan.

Inilah ironi klasik dalam relasi warga dan penguasa. Penguasa selalu benar, warga ada di pihak yang membutuhkan. Andai Jawatan Kereta Api Tanah Melayu Berhad mengambil alih pengurusan, mungkin kita akan blingsatan. Marah, merasa kedaulatan tergadai. Padahal sebelum Petronas membuka SPBU disini, pom bensin Pertamina identik dengan wc bau pesing, pelayan tak ramah. Ketidakpedulian selama ini dengan menganggap pengguna angkutan publik hanyalah butir-butir kecil, ditutupi dengan narsisme cinta tanah air.

Pukul 21 aku tiba di tujuan. Padahal Gondangdia-Pondokcina biasanya ditempuh 30 menit. Tak kupedulikan portir di pintu keluar yang meminta tiket. Aku berharap dia marah, supaya aku bisa membalas dengan menyenggaknya, bahwa rakyat itu harus dilayani. Syukur dia diam.

Bau durian lamat2 menyapu hidung begitu aku memasuki lantai UG West Mall Grand Indonesia. Tepat di tangga berjalan menuju Food Hall bau itu semakin menyengat. Di dekat tangga itulah pesta makan durian sepuasnya berlangsung. Beberapa kelompok sedang merubung buah berduri yang menebar bau itu.

Bau bagi sebagian orang, nikmat bagi yang lain. Rekan bule istri di British Council puasa belanja di akhir pekan, untuk menghindari sengatan bau. Andai Usamah ibnu Ladin tau, tak perlulah itu bom bunuh diri. Cukup siapkan bubuk durian, kirim lewat amplop, maka senjata biologi atawa bioterrorisme sdh mengguncang stabilitas dan geopolitik dunia. Gimana tidak, Andrew Zimmarn, si pemakan apa saja di acara Bizarre Foods di saluran Discovery Travel and Living, ampun2 menghadapi durian.

Petugas memeriksa tiket, mencatat nama dan nomor telepon, meminta membaca aturan “tidak mengidap sakit bla.. bla..” lalu meminta persetujuan resiko ditanggung sendiri. Belum cukup, kita dipersilakan ke toilet dan membeli minum dulu. Pokoknya kesan bahwa makan durian ini bukan sekedar makan, tapi pertempuran.

Durian berdaging kuning sedikit basah sudah terhidang. Satu butir, dua butir, tiga… dalam 15 menit 8 butir durian terguling. Ya, inilah pertempuran. Istri pun sibuk menelpon teman2nya yang mengikuti pesta ini pekan sebelumnya. Ia melapor dengan bangga, rekor 14 butir tampaknya akan pecah, oleh suaminya pula.

Ah, inilah kota. Semua dikemas dalam narasi indah. Ngepop. Makan durian bukan lagi sekedar makan belaka. Tapi dikomodifikasi berbalut pesta, bernuansa pertempuran.

Sebelum menuntaskan butir ke-16 aku minum dari kulit dalam durian. “Tau juga trik anti keracunan itu”, kata seorang opa yang datang dengan 2 cucunya. “Saya orang Medan pak”. “Saya punya kebun duren di Palembang”, jawabnya.

Kita pun tertawa. Masa kecil kita berlumur durian. Menginap di dangau menunggu durian jatuh, menunggu suarga gedebuk, lalu berkeliling dengan obor menelisik tumpukan dedaunan. Atau kalau harus membeli, bukan per biji, tapi ukuran karung atau satu becak.

Kini durian naik kelas. Datang dari negeri seberang, makannya di mall berpendingin, dan pakai tiket yang dibeli sepekan sebelumnya. Durian tetaplah buah dalam buah berduri. Tapi ada kemasan lain, biar kita datang, dan menganggapnya layak sebagai sebuah cerita.

Cewek2 di meja sebelah terkikik setiap melihat pose mereka di layar Blackberry. Temannya yang lain, khusyuk meng-upload foto2 itu ke situs pertemanan.

Tit..tit.. sms masuk: ingat umur, awas korting, kolestrol tinggi. Tak apa, kata Gede Prama, penyakit itu tak hanya bersumber dari makanan, tapi juga pikiran. Maka makan durian, eh bergembiralah..!!

Dua anak-anak itu begitu menikmati perjalanan. Mereka berdiri di bangku, memandang keluar dari jendela kereta. Sang ibu seolah tak peduli dengan polah kurcacinya. Ia terpaku dengan Blackberry, alat yang disebut kartunis Benny dan Mice sebagai “membuat orang merasa seperti artis2 di infotainmen”. Dibalik BB itu tersembul dua tiket. Good, ibu yang baik. Banyak orang tua yang membawa anak-anak tanpa tiket, tetapi duduk dan membiarkan orang lain yang bertiket berdiri.

Tapi anggapanku keliru. Ketika kondektur datang, si ibu menyodorkan tiket. “Dua”, katanya sambil menunjuk seorang lelaki yang duduk di depannya. Oho, ternyata itu bocah mengambil hak orang lain. Kejadian serupa itu banyak pada hari libur. Atas nama sayang anak, anak-anak tak berdosa itu dibiarkan mempraktekkan korupsi sejak dini. Petty brabery. Padahal korupsi kecil-kecilan itu terjadi karena kesempatan dan ruang yang juga masih kecil. Bayangkan, jika orang yang terbiasa mengambil hak orang lain, menduduki jabatan tingi, katakanlah DPR, Menteri, atau Presiden, maka state capture-lah yang terjadi.

PT Kereta Api memang tidak mengatur pemberian tempat duduk untuk anak kecil. Stiker di gerbong hanya menyoal penumpang dewasa. “Penumpang tanpa tiket didenda bla..bla..”. Bernuansa pengusaha.. Stiker itu bersisian dengan “Dilarang mengamen, berjualan di atas gerbong”. Militeristik, Kopkamtib. Tak ada yang mengatur kemaslahatan bersama, menggunakan sesuatu yang menjadi hak.

Ingin aku protes kepada kondektur. Tapi aku takut ia menjawab: “Maaf mas, saya pengikut neoliberalisme. Peran negara diperkecil, rakyat dibiarkan mengatur sendiri sampai ketemu titik keseimbangan sesuai norma masyarakat itu sendiri”.

Jadi, mau pengusaha, militer, atau neoliberal kek, kami para rahayat, menunggu bukti kesejahteraan. Jika tidak, kampanye hanya menjual kecap manis dari si mulut manis.

Serombongan lelaki berseragam loreng, memasuki ruangan dengan membentuk formasi pagar betis. Di tengah, ada Manohara Odelia Pinot, model yang sedang ada di pusaran berita. Perempuan berumur 17 tahun itu mendapat pengawalan ekstra ketat. Entah untuk perlindungan dari ancaman apa.

Selain pengamanan, istri Putra Mahkota Kerajaan Kelantan tersebut, juga memperoleh peliputan maha dahsyat. Wajahnya dimana. Koran, televisi, radio. Apapun kegiatannya sedang ditunggu publik, begitulah adagium para pencari berita. Air mata Manohara dan ibunya, jualan atas nama drama penarik perhatian pemirsa.

***

Air mata keluarga Anak Agung Prabangsa kering sudah. Wartawan Radar Bali itu meninggal 3 bulan silam. Mayatnya ditenggelamkan ke laut. Pelakunya diduga anggota DPRD Yang Terhormat, sekaligus Yang Terkorup. Ia membunuh karena sang kuli tinta menuliskan kegagalan proyek bermasalah. Berbeda dengan Manohara dan ibunya yang demen media, keluarga Prabangsa terang2an menolak peliputan berlebihan.

Barangkali dimasa hidupnya Prabangsa acap menceritakan etika jurnalistik. Barangkali. Pelibatan keluarga, sejawat yang tak terkait kasus merupakan pelanggaran. Apalagi ini kasus pembunuhan, penayangan wajah anak2 bisa menuai beragam efek. Mulai dari yang terkecil, jadi bahan cemoohan rekan si anak, hingga terancam menjadi korban pembunuhan berikutnya.

Di media kita, hak anak “menjauh” dari peliputan nyaris terlupakan. Wajah pelaku yang masih berstatus tersangka, atas nama asas praduga tak bersalah, disamarkan. Tetapi wajah anak2 korban, atas nama drama kepedihan, harus diclose-up sedemikian.

***

Nun di Sampang, ujung timur pulau Jawa, keluarga Maddekip juga berurai air mata. Kontekstual tentu saja dengan air mata Manohara. Maddekip, adiknya Rauf, serta lima TKI lain, tewas mengenaskan di Selangor Malaysia. Di malam Jumat jahanam itu, mereka tertimpa bangunan Supermarket Jaya, di Selangor. Bangunan berlantai 5 berusia 35 tahun itu runtuh, saat dibongkar oleh para TKI tersebut.

Tak ada Laskar Merah Putih, yang ada hanya pasukan bomba api mengorek reruntuhan, mencari belulang yang terserpih dari daging. Hampir sepekan, jenazah orang miskin, yang melanglang ke negeri seberang untuk menghidupi keluarga, belum jua pulang.

Kematian mereka bukan komiditas berita yang ditunggu publik. Dikte pasar hanya berlaku untuk kasus Manohara, si pemakai baju dan asesoris mahal yang jelita paripurna itu.

Entah sadar atau sengaja, publikasi Manohara yang sedang menghadapi kasus hukum — jika benar ia disiksa dan meminta cerai karenanya–, bisa merupakan trial by the press. Rasa kasihan berlebihan, akan membentuk opini publik, bahwa Manohara sudah benar, dan Fakhri bersalah jauh sebelum sidang. Kamera bisa merusak hak untuk memperoleh peradilan yang fair.

Tapi sudahlah, ini jaman termehek-mehek. Mau rekayasa kek, mau tipa tipu kek, yang penting ada drama, air mata penghasil emosi dan sensasi. Substansi? Ah, rating tak menyoal itu.